Cerpen Orhan Pamuk (Suara Merdeka, 21
Maret 2010)
KAMI berjalan di sepanjang Jalan
Valikonagi, menikmati malam musim semi yang sejuk. Pertunangan kami baru saja
diresmikan; kami sedang mabuk dan dalam semangat yang tinggi. Kami baru saja ke
Fuaye, restoran mewah baru di Nisantasi; saat makan malam bersama orangtuaku,
kami membicarakan panjang lebar segala persiapan pesta pertunangan yang
dijadwalkan pertengahan Juni.
Dalam perjalanan pulang ke rumah Sibel
sore itu, saat lenganku merangkul dengan penuh kasih bahunya yang kokoh, ia
tiba-tiba berujar, “Oh, tas yang indah!” Walaupun pikiranku dikaburkan oleh
anggur yang memabukkan, aku berusaha mengingat tas tangan dan nama butiknya,
dan