Assalamu'alaikum. Arin H. Widhi
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Kakek Ingin Meninggal Di Tanggal 17 Agustus

 Tiap tanggal 17 agustus, aku dan keluargaku selalu berziarah ke pemakaman yang tak jauh dari rumah, tempat kakek disemayamkan 19 tahun silam.
Kakekku layaknya orang tua pada umumnya, beruban dan berkeriput tebal, namun diluar kerentaannya kakek adalah sosok yang hebat dalam ingatanku. Aku ingat kepala kakekku setengah botak akibat ledakan granat di masa perang dan ia sering mengatakan dengan spontan tentang keinginannya yang meninggal pada hari peringatan kemerdekaan, entah apa yang melatarinya, sampai sekarang pun aku masih terus bertanya-tanya.
Kakek pertama kalinya di rekrut oleh pemerintah Jepang menjadi tentara Seinen Dojo (Barisan Pemuda) sebelum ia bergabung kyodo boei giyugun atau PETA pada tahun 1943. Dengan celana karung goni ia dan puluhan temannya mendapat latihan militer dari Jepang yang keras. Sebelum pukul lima dia dan kawan sekomandonya akan mengelilingi lapangan sambil mendendangkan lagu Jepang-lagu yang pernah dia ajarkan padaku tapi kemudian aku lupakan.

Jumat, 30 Mei 2014

Manis, Pahit Sebutir Kuldi


Aku menatap matanya, dalam-dalam seolah mengali sebuah kejujuran dan ketulusan yang mendamaikan. Entah, mataku yang sedang berkabut atau matanya yang sedang tak jujur.
“Cobalah sedikit saja,” Katanya menuangkan secangkir anggur dari belahan tubuhnya.
“Ayolah…Ayolah…sedikit saja, cobalah!” Seseorang lain dalam diriku bersorai. Berjingkrak dan meringkik seperti kuda liar yang baru dilepaskan dari kandangnya. Aku pasrah dan membiarkan iblis dalam kepala memenangkan permainannya. Lantas, aku hanya bisa pasrah, aku yang memulai semuanya. Maka tak bisa kuhindari ketika aku terlentang di atas bara. Peluh membasah. Aku tertidur. Aku melihat surga dan neraka menjadi satu jiwa.
000
Di suatu ketika, kala aku terlelap, aku tidur tengkurap. Kerap terdengar dengkur-dengkur pohon malam yang menaungi tidurku. Aku sering terjaga, lantas terserang sebuah dilema. Seolah sebagian tubuhku itu kosong keronta tapi aku tak tahu harus diisi apa. Aku juga sering

Senin, 12 Mei 2014

Cerita Mini; Pantat

Seorang wanita, memakai beach pant menyodorkan pantatnya di mukaku. Aku mengeram sambil memandang cela diantara belahannya. 
Aku menepuk pantatnya dengan gemas. Berharap tepukanku penuh kutukan yang membuat pantat itu bisulan hingga di tahun-tahun ke depan.
"Ahh maaf-maaf." Dia menoleh. "Saya

Minggu, 11 Mei 2014

Nenek Berbicara Cinta

Ketika aku kecil dulu, aku percaya bahwa cinta itu semacam gula-gula berwarna-warna yang membuat lidah terusan saja mengunyah tanpa henti-hentinya. Menikmati tiap incinya dan memintanya lagi dan lagi.
Lalu aku berubah pikiran. Cinta tak selamanya menyenangkan perasa. Aku patah hati untuk pertama kalinya. Cinta rasanya berubah, membuat muak dan sakit rasanya. Karena rasa sakit yang kurasa aku mulai kehilangan arah. Aku carut marut dan berat badanku menyusut.

Kanvas Dan Lukisan Gadis Boneka



(1)
Mungkin engkau setiap hari berpijak diantara rerumputan, tetapi engkau tak akan bisa tahu bau rumput yang sebenarnya tanpa menunduk dan menciumnya terlebih dahulu bau tanah tempat rumput tumbuh dan berdendang.
***
(2)
Sore yang jingga saat sekawanan camar berlayar di antara awan. Di balik bukit seorang bocah laki-laki muncul dengan segerombolan dombanya. Mengiring hewan berkaki empat itu kembali ke rumahnya.
‘Tak lelahkah ia bersama domba-domba? Tak bosankah ia mengembala; mengatur, merawat  dan mengarahkan hewan-hewannya yang terkadang berhasrat semaunya itu? Bagaimana Laki-laki muda itu mampu menjadi pemimpin di dunianya sendiri.’

Tolong Aku Sekarang!!


Masih terdengar hiruk pikuk suara itu, para kepala-kepala kecil yang muncul dari hantu masa laluku. Lebar-lebar mulut mereka dengan gigi-gigi yang terlihat bergerigih. Mereka masih tertawa dengan membawa benda kecil berwarna gelap dan bersayap. Tak lupa dua antena panjang dikepalanya.
“Hahahahaaa....”suara mereka riang. “Iiiiihhhhh...ini...” si anak kecil kepala plontos melemparkan seekor kecoa kearahku. Aku menjerit sejadi-jadinya dan lari kesetanan sedang mereka tertawa dengan renyahnya.
000
Awal bulan juni aku bermigrasi kekota. Hari pertama aku dirumah baru suamiku tak terjadi satu apapun yang mencurigakanku. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya. Namun seiring berjalannya waktu yang berlalu aku mulai mencium bau kecurigaan yang kian hari makin menyengat. Dan disanalah ia, dengan koloninya, berpuluh berkumpul dalam pesta yang mengeksekusiku berdiri.

Dongeng Anak-anak; Penyesalan Si Wortel


Matahari bersinar dengan hangat, seorang Pak tani tua dengan semangatnya bergegas ke ladangnya untuk melihat tanaman wortel miliknya yang mulai tumbuh. Terlihat tunas-tunas daun diantara tanah merah.
Pak tani yang gembira merawat tanaman wortelnya dengan kasih dan selalu memenuhi kebutuhan air dan pupuk bagi wartel-wortelnya. Dan waktupun semakin berlalu, tunas-tunas wortel tumbuh subur dan semakin membesar.
Diantara tanaman wortel yang subuh itu ada satu buah wortel yang lebih besar dan lebih subur dari wortel-wortel yang lain, karena dia sering mengambil jatah air d

Tes DNA


Siang itu, tiga Polisi dengan mobil bersirenenya berhenti disebuah rumah duka. Duka atas meninggalnya anak perempuan ketiga dari rumah itu. Yang ditemukan oleh warga mengapung busuk disebuah danau dengan celana yang melorot sampai lutut.
Sebelum meninggalnya gadis itu, beberapa orang melihat

Petunjuk Ibu Tentang Kehidupan


Sore, di beranda rumah seperti biasa. Dengan segelas wedang jahe, ubi rebus dan suara tawamu yang membumbung tinggi dan membuatnya terukir rapi dalam benakku. Memetakan senyummu yang selalu menghangatkanku bahkan ditahun-tahun kedepan-saat jauh dari keberadaanmu senyummu masih saja menemaniku.

Rahasia Sang Rahasia


Kami menemukannya terdampar diantara deru ombak. Saat wajah ombak mengulung tanpa ampun, disela bebatuan karang terjuntai rambut-rambut keperakan yang memantulkan matahari dini hari. Dan dengan mata kepala kami sendiri, kami menyaksikan bagaimana manusia itu merangkak memulihkan kesadarannya.

Garis wajahnya yang pucat mengisahkan dengan bisu bagaimana dia terbawa sampai sini bersama dengan lipatan-lipatan dingin dan goresan-goresan keriput yang tercipta mendadak, seakan satu persatunya dengan jelas mengumandangkan berapa lama waktu yang dia tempuh untuk berbaring goyang diatas hamparan permadani lautan. Satu hal lagi yang kami percayai sebagai mu'jizat, Ketika dengan pasti tanganNYa membawa gadis ini sampai disini, ditengah kami.

Dongeng Halua Putri


Pada zaman dahulu hiduplah sepasang saudagar yang sangat kaya raya, memiliki kapal-kapal yang banyak dan besar serta barang dagangan yang melimpah, hidup mereka serba kecukupan dan mereka saling mencintai satu sama lain. Tapi dengan semua yang mereka miliki mereka merasa ada yang kurang karena tiadanya kehadiran anak ditengah-tengah keluarga yang akan menyempurnakan kebahagiaan mereka.

Kutunggu Antrian


Hampir setengah jam, tanpa alas kaki utuh aku berdiri diantara kebulan bau manusia yang bercampur menjadi satu-kesatuan yang hampir menonjok indra pembauan. Dibawah terik panas ini, kuintip matahari yang seakan dipanggil dari padang mahsyar dengan secepat kilat ia menyenggat mataku yang berair perih duka.
 “Sesungguhnya aku telah memberikan padamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS:Al Kautsar)

Sabtu, 10 Mei 2014

Pentas Akhir Sekolah


Pagi yang riang dalam balutan wajah-wajah penuh duka yang tranparan. Tawa-tawa mengema disegala penjuru sekolah seakan mengajak ranting dan dahan akasia untuk ikut serta, namun mereka tetap diam dan bungkam. Dalam nuansa pesta terakhir kita, sebelum kita kepakan sayap dan terbang dari pelataran SMA, dalam riang yang berbalut duka. Jalinan yang kita rajut mungkin akan terurai dengan sendirinya. Kawan inilah saatnya.

Penyelamat


"Hhhuffh." wanita bersyal itu menghembuskan nafas panjang sebelum menekan bel pintu di salah satu rumah mewah di daerah Whitechapel. Daerah yang hampir tiga bulan ini dihantui oleh teror mencekam seorang pembunuh berdarah dingin. Bahkan jalanan yang ramai dan megah itu ketika menyentuh malam akan menjadi senyap dan menakutkan siapa saja.

Akhir Cinta


Mungkin engkau memiliki kisah dimana engkau hanya mampu melihat seseorang yang kau anggap berharga dari jauh. Mungkin engkau pernah mendapatkan kesejukan dari mata yang bahkan tak bisa kau pandangi selama beberapa menit sekalipun. Mungkin engkau pernah sembunyi-sembunyi melihatnya dari sudut matamu. Mungkin engkau pernah diam-diam melakukan sesuatu untuknya dan mungkin engkau pernah merasa seluruh dunia adalah sepenuhnya dia. Ya, engkau mencintainya dan rasa cintamu yang sedalam-dalamnya. Namun seiring berjalannya waktu engkau semakin menjadi angin lalu yang numpang lewat disisinya. Cinta yang kuyakini mampukan menjaganya dikala malam dan hembusan nafasnya yang menjadi bagian kehidupan namun jika dia berbahagia, melihatnya tersenyum dan terhapuskan gurat kesedihan dimatanya saja merupakan energi yang bisa menegakkan diri hingga akhir nanti.

Kamis, 08 Mei 2014

Kenari Musim Dingin


“Seorang gadis kecil berjubah merah yang akan mengingatkanmu pada si tudung merah yang tengah menghadapi serigala dalam dongeng anak-anak sedang berjalan sendirian. Tapi si tudung merah kita ini sepertinya tak akan mampu melawan sang serigalanya.”

Gadis berjubah merah dengan langkah berat yang dirantai derita, berjalan terseok–seok diantara kelembutan salju putih yang seakan tak berdosa. Gadis itu tidak menghiraukan kaki telanjangnya yang seakan menginjak duri–duri ketika menginjak tumpukan salju. Yang bertubi–tubi menusuknya.