Kakekku layaknya orang tua pada umumnya, beruban dan
berkeriput tebal, namun diluar kerentaannya kakek adalah sosok yang hebat dalam
ingatanku. Aku ingat kepala kakekku setengah botak akibat ledakan granat di
masa perang dan ia sering mengatakan dengan spontan tentang keinginannya yang
meninggal pada hari peringatan kemerdekaan, entah apa yang melatarinya, sampai
sekarang pun aku masih terus bertanya-tanya.
Kakek pertama kalinya di rekrut oleh pemerintah Jepang
menjadi tentara Seinen Dojo (Barisan
Pemuda) sebelum ia bergabung kyodo boei
giyugun atau PETA pada tahun 1943. Dengan celana karung goni ia dan puluhan
temannya mendapat latihan militer dari Jepang yang keras. Sebelum pukul lima
dia dan kawan sekomandonya akan mengelilingi lapangan sambil mendendangkan lagu
Jepang-lagu yang pernah dia ajarkan padaku tapi kemudian aku lupakan.




