Assalamu'alaikum. Arin H. Widhi
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Yogya; sebuah perjalanan spiritual, budaya, dan relaksasi diri (meditasi)


  
Gunung Kidul dalam sesi istirahat
-sudah lama sebenarnya saya ingin menulis hal ini, namun beberapa kali waktu datang dan menjemput saya, sehingga tak membiarkan saya untuk menyelesaikan postingan ini-oke anggaplah ini sebagai sebuah pembenaran belaka.

Foto 1
Di bulan September kemarin kami-aku, suamiku, temannya, dan juga kekasihnya, bersama-sama mengunjungi saudara jauh kami-tepatnya ayah angkat saya. Kami menginap di rumah beliau, sekalipun hanya tiga hari saja namun hal tersebut sudah membuat kami masing-masing mendapatkan kenangan yang tak terlupakan bersama.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Foto 1 di ambil di sebuah pagi yang asri di rumah Abah Mentari Jiwa. Rumahnya selalu menjadi

Selasa, 11 November 2014

Pengalaman Pelecehan Seksual Anak-anak Di Masa Kecilku (1999-2005)


Dulu sewaktu aku masih dibangku sekolah dasar, saat televisi didominasi serial tv Wiro Sableng, Tersanjung, Amigos, dan Mak Lampir. Saat itu orangtua mulai mengemari sinetron cinta, konflik rumah tangga, dan mulai membiar anak-anak ikut serta menonton. Anak-anak lulusan tk mulai mengenal kata cinta dan pacaran serta mulai memperhatikan keberadaan lawan jenisnya. 
Meskipun begitu, di masa itu sinetron tidak berkembang sederas ini, jangankan facebook, internet bahkan handphone saja jarang yang memiliki. Tapi di masa itu anak-anak seusiaku sudah tahu ciuman bahkan anak laki-laki sudah mulai merayu dan mendekati anak perempuan yang dia sukai. Awalnya memang hanya sebatas saling tunjuk si A pasanganya si B namun lama kelamaan anak laki-laki mulai berfikir cabul dengan rasa penasaran ‘ada apa di balik rok anak perempuan?’. Dan secara bergantian mereka mengintip dari kolong meja bahkan menyingkap rok anak perempuan.
Lalu kakak-kakak kelas mulai meraba pangkal paha dan dada teman-teman perempuannya, seolah mereka ingin membuktikan bentuk rupanya setelah melihat saudara, ibu, tentangga-tetangganya bertelanjang dada ketika menyusui anaknya.
Guru pun mulai berbicara kemesumannya di depan kelas, disela-sela pelajaran yang ia berikan, tentang ukuran dada si anak kelas lima dasar, atau dada dan pantat anak kelas enam. Otomatis anak laki-laki pun semakin berani bertingkah selayaknya Paparazi, mereka mulai menyebar berita bohong dan mengucapkan kata-kata cabul kepada teman sekelasnya. Seorang anak yang berusia 10 tahun dan mirip Giant di serial Doraemon dengan beraninya bercerita lantang tentang si N (10 tahun) yang

Senin, 25 Agustus 2014

Catatan Kehidupan saya: Cara Saya Menilai Hidup Di Masa Kecil


Pada akhirnya saya merilis tulisan ini sebagai agenda nostalgia dan pengingat diri saya tentang bagaimana kebiasaan saya yang telah lalu, agar mampu menghadapi apa yang ada di depan saya dan dapat memaknainya dengan bijak serta menghadapinya sebagai bagian dari pematang kesejatian diri.

Saya terlahir di sebuah desa yang masih tertutup ilalang di sepanjang tepi jalannya, tangan-tangan ilalang yang ada di antara tangai bunga berambut putih seperti kapas lembut yang akan menempel di tangan jika tangan berkeringat. Kampung saya dialiri sungai yang beraliran cukup deras yang selalu memakan korban tiap tahunnya, menurut kepercayaan warga setempat

Senin, 12 Mei 2014

Esai Sastra; Meretas Bangunan Estetika Perpuisian Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

(Artikel ini dikutip dari Jurnal Kebudayaan Islam, IBDA', Volume 3, Tahun 2005, Edisi 2, Hal. 193-215)


Meretas Bangunan Estetika Perpuisian
Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

oleh Heru Kurniawan

Abstract: Esthetics have important role in poem, because it stand parallel with meaning, as body or container that contain meaning, idea, thought, and message. With hermeneutic interpretation, we can interpret the meaning of esthetics symbols of Abdul Wachid B.S’s poetry. From his several works, by adequate philosophic-religiosity understanding, we can find that its poem talk about transcendental love through two esthetics feature: first, based on reality awareness, and second, transcendental love which have based on love and longing to The Most Beautiful (Allah). Hence, we can obtain meaning through the real symbolism that able to brighten reader’s heart.
Keywords: poem’s esthetics, hermeneutic, symbol, profane-transcendent, feminine image.

---Pengantar

Estetika dalam karya sastra (puisi) begitu penting keberadaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinatif yang bermediakan

Esai Sastra; "KEINDAHAN YANG RUMIT DAN KEINDAHAN YANG SEDERHANA"

oleh Abdul Wachid B.S.


Ketika Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri) memberi "Kata Pengantar" kepada buku sajak saya yang pertama, Rumah Cahaya (1995), beliau menulis bahwa sajak yang rumit itulah yang bagus, dan sajak-sajak Abdul Wachid B.S. itu rumit, dan karenanya bagus, penuh lambang-lambang... dst.

Tetapi, saya menerima "Kata Pengantar" itu sebagai tarbiyah untuk