Pulau itu adalah ibu, dengan ribuan pasir yang disebut kasih. Dan laut yang
kupanggil ayah, adalah kumpulan ombak perasaan yang buihnya dalam ingatanku
selalu menyentuh pasir ibu. Namun laut adalah gelombang yang tak pernah tinggal
diam, ia selalu bergelombang tak pernah tetap tinggal disebuah pesisir daratan.
Dan ialah laut yang senantiasa berpetualang. Lantas pergi, lenyap. Ayah...
Sejak hilangnya kehadiran sosok ayah yang tak pernah kuingat kapan
terjadinya, namun hanya segumpal perasaan yang terkadang bersemayam. Kerinduan.
Gelompang pasang ayah tak pernah lagi datang membasahi pulau ibu atau bahkan
sekedar mengunjungiku.
Dan sepuluh tahun sudah lamanya, sejak tak pernah kuhirup aroma ayah
disetiap musimnya. Karenanya aku mengundang mereka berdua datang ke pulau ini.
Kuselipkan surat undangan dengan bau laut dan pantai dalam seribu gugusan pulau
kepingan harapan. Akhirnya mereka pun datang, itulah yang kudengar. Dengan
kebahagiaan yang meledak-ledak aku menyambut mereka dengan
serangkaian bunga-bunga tulisan yang
kutitipkan pada penjaga pantai.
