Assalamu'alaikum. Arin H. Widhi
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Sejarah Sastra Jepang Modern Bagian III

Kawabata Yasunari

Yasunari Kawabata adalah adalah seorang novelis Jepang yang prosa liriknya membuat ia memenangkan Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1968. Ia menjadi orang Jepang pertama yang memperoleh penghargaan tersebut. Karya-karyanya hingga kini masih dibaca bahkan di dunia internasional.
Sementara masih menjadi mahasiswa, Kawabata menghidupkan kembali majalah sastra Universitas Tokyo, "Shin-shichō" (Arus Pemikiran Baru) yang telah mati lebih dari empat tahun. Di situ ia menerbitkan cerita pendeknya yang pertama, "Shokonsai Ikkei" ("Suasana pada suatu pemanggilan arwah") -- sebuah karya yang

Sejarah Sastra Jepang Modern Bagian II

Periode antara pergantian abad dan dominisasi militerisme pada tahun 1930-an, memproduksi tiga penulis besar, yaitu Mori Ōgai, Natsume Soseki dan  Ryunosuke Akutagawa.

Mori Ogai

Mori Ogai adalah novelis Jepang, penerjemah, kritikus, sekaligus dokter militer, peneliti kedokteran, dan seorang birokrat. Setelah lulus sebagai dokter, Mori diterima di korps dokter militer angkatan darat, dan belajar ke Jerman selama 4 tahun atas biaya negara. Sepulangnya dari Jerman, Mori menerbitkan antologi puisi terjemahan berjudul Omokage dan novel Maihime (Dancing Girl). Improvisatoren (The Improvisatore: or, Life in Italy) oleh Hans Christian Andersen diterjemahkannya sebagai Sokkyō Shijin. Moori terinspirasi oleh sastra  Jerman dan memainkan peran utama dalam gerakan sastra Jepang romantis. Mori mulai aktif sebagai penulis sejak menerbitkan majalah Shigarami Sōshi. Setelah diangkat sebagai Inspektur Jenderal Korps Dokter Militer Angkatan Darat, Mori menghentikan kegiatan tulis menulis untuk sementara. Namun setelah terbitnya majalah Subaru, ia kembali menulis dan menghasilkan

Minggu, 08 Maret 2015

Sejarah Sastra Jepang Modern Bagian I

Restorasi Meiji merupakan langkah awal bagi Jepang untuk menuju zaman modern. Jepang menyadari akibat politik isolasi yang berlangsung lama, sehingga memasukkan kebudayaan barat yang tergesa-gesa. Begitu juga bidang kesusastraan banyak menerima pengaruh dan dorongan dari kebudayaan barat, dan kemudian berkembang dalam negara Jepang. Kesusastraan zaman modern mencerminkan manusia yang hidup dalam masyarakat modern yang cenderung mempunyai sifat borjuis yang menganut paham liberal dan demokrasi. Pada periode awal masuknya kesusastraan barat dipelopori oleh golongan terpelajar yang dimulai dengan kesusastraan terjemahan. Tokoh-tokoh yang mewakili pelancaran jalannya Bunmei Kaika (Revolusi Kebudayaan) yaitu Fukuzawa Yukichi dan Nishi Amane. 

Fukuzawa Yukichi

Fukuzawa Yukichi adalah penulis Jepang, ahli Rangaku sekaligus samurai Domain Nakatsu, penerjemah, pengusaha, pengajar yang mendirikan Universitas Keio. Ia diberangkatkan ke Amerika Serikat sebagai anggota delegasi Jepang dan melakukan perjalanan ke Eropa setahun sebelum Restorasi Meiji. Fukuzawa menerbitkan banyak sekali buku dan artikel, di antaranya Gakumon no Susume (Dorongan untuk Belajar) (1872-1876) dan Bunmeiron no Gairyaku (Garis Besar Teori Peradaban) (1875).  "Langit tidak menciptakan seseorang dengan harkat di atas atau di bawah orang lainnya." adalah kalimat pembuka Gakumon no Susume yang dikenal anak-anak sekolah di Jepang. 
Sebagian besar tulisannya diterbitkan oleh penerbit universitas atau surat kabar Jinji Shimpo yang

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA



Sikap hidup pragmatis pada sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Demikian halnya dengan budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal (local wisdom) yang santun, ramah, saling menghormati, arif, dan religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Masyarakat sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, kasar, dan vulgar tanpa mampu mengendalikan hawa nafsunya, seperti perilaku para demonstran yang membakar kendaraan atau rumah, merusak gedung, serta berkata kasar, dalam berunjuk rasa seperti yang ditayangkan di televisi. Fenomena itu dapat menjadi representasi melemahnya karakter bangsa yang terkenal ramah, santun, berpekerti luhur, dan berbudi mulia.
Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi yang demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa, khususnya dalam melahirkan generasi masa depan bangsa yang cerdas cendekia, bijak bestari, terampil, berbudi pekerti luhur, berderajat mulia, berperadaban tinggi, dan senantiasa berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada karakter bangsa, yang tidak sekadar memburu kepentingan kognitif (pikir, nalar, dan logika), tetapi juga memperhatikan dan mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran budi pekerti. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada pembentukan karakter bangsa itu

Kamis, 04 Desember 2014

Feminisme Radikal Vs Kaum Patriarki Dalam Novel Maya-Ayu Utami

Yasmin Vs Maya, (Part Maya)

Tidak seperti biasa, ketika membaca Saman dan Larung atau Seri Bilangan Fu, yang selalu merasa bosan dan menghentikan membaca pada 20 halaman terakhir. Novel Maya, yang di daulat sebagai penutup dari dwilogi dan serial pendahulunya tersebut-yang lebih cenderung sebagai kelanjutan Saman-Larung ketimbang Seri Bilangan Fu, membuat saya bosan pada 20 halaman awal namun berhasil membawa saya pada dunia memaki-serapah pada bab-bab pertengahan cerita.
Dimulai dari kisah Yasmin yang mendapat surat dari kekasihnya yang hilang-Saman, lalu menemukan batu Supersemar yang sangat berharga diantara tumpukan tulisan pria gelapnya, yang kemudian menuntunnya ke perdepokan Suhubudi yang mistis dan kejawen. Sejak membaca Saman saya memang tak tertarik dengan kisah Yasmin-Saman, terlebih pada Maya ini. Saya menemukan keseruan cerita berawal dari pertunjukan sendatari Ramayana, yang dipentaskan oleh kaum cebol-klan Saduki, yang dikisahkan hidup di pojok barat dan terpencil dalam pedepokan Suhubudi tersebut.
Diantara para cebol. Maya dikenal sebagai pemeran Sita atau Shinta dan Tuyul pemeran Rama-lah yang membuat saya menikmati suguhan Ayu Utami. Diluar dari kekerdilannya-dalam novel ini saya beranggapan bahwa kerdil adalah lambang kemampuan berfikir bukan bentuk badan, Maya adalah

Menelaah Feminisme Radikal dan Manusia Kerdil Dalam Novel Maya-Ayu Utami


-I-
Nama Ayu Utami identik dengan Sastra wangi dan kontroversinya. Sastra wangi sumber utama kontroversi dalam karya-karyanya adalah kebebasan dalam mendiskusikan seksualitas dengan segala aspeknya.
Hal tersebut dilakukan pengiat sastra wangi untuk membongkar dinding yang selama ini membungkam wacana. Ayu Utami sendiri menegaskan bahwa para pria sudah sejak lama mengumbar seksualitas di media. Dan wacana seksual dari perspektif perempuan  memang diperlukan. Sudah wajar, bila satu bentuk perjuangan atau langkah terobosan dianggap sebagai berlebihan oleh pihak yang ingin mempertahankan status quo, sebagaimana rezim Suharto (Time Asia, 20 November 2005). Dan apa yang mereka sampaikan hanyalah  sesuatu yang memang terjadi di masyarakat. Mereka mengungkapkan  sesuatu yang dianggap tabu oleh generasi pendahulunya. Pendapat itu didukung oleh Julia Suryakusmana, yang  menyatakan bahwa budaya tradisional bangsa kita sebenarnya sangat  seksual. Yang terjadi adalah skizoprenia antara kenyataan sejarah dengan apa yang disebut dengan ‘nilai-nilai Ketimuran.’ Pernyataan Julia  ini menegaskan bahwa apa yang para pengarang perempuan kemas dengan bahasa-bahasa yang dianggap ‘kotor’ itu betul-betul merupakan  refleksi dari kenyataan di dunia moden, atau bahkan cerminan budaya  yang sudah sejak dulu memang seksis.
Dan kecaman negatif kebanyakan muncul dari para sastrawan senior, misalnya Taufiq Ismail, yang menyatakan sebagai berikut:
Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabulcabulkan karya, asyik menggarap

Senin, 24 November 2014

Berkabungnya pesta Kanibalime

Dua mayat yang masih hangat dari wanita tengah baya, tergeletak di antara tanaman ketela rambat dengan sekujur tubuh yang dipenuhi anak panah. Dengan wajah beringas karena mabuk darah, para penyergap yang lebih muda bersorak atas kemenangannya dalam membantai wanita suku musuh mereka itu, dan  sejenak mereka melupakan kewaspadaan sedang ada didaerah musuh. Tapi tidak dengan Solombe dan Nubi, yang saat itu menjadi pemimpin kawanan penyerang, mereka berdua tetap waspada. Dengan sigap mereka memerintahkan para kawanannya untuk menguliti dan mengambil organ-organ penting dari wanita yang berhasil mereka bunuh tadi.
Namun tiba-tiba rombongan suku dari wanita yang terbunuh itu muncul dengan amarah yang tampak diluar batas kemanusiaan. Dengan geram mereka melepaskan anak panah kesegala penjuru. Beberapa prajurit rombongan Solombe dan Nubi terpanah dan mati saat itu juga akibat racun yang ada di mata panahnya.
Rombongan prajurit Solombe dan Nubi yang lain berlari tergesa-gesa untuk menyelamatkan diri mereka dan meninggalkan perkerjaan mereka-mengambil organ dalam wanita itu. Disaat semuanya menyelamatkan diri masing-masing, Solombe yang sudah mengambil janji untuk menghidangkan makanan lezat dari daging dan jantung manusia untuk tetuah sukunya tertinggal seorang diri. Dengan terburu-buru dia mencabuti anak panah di tubuh salah satu mayat dan langsung membawa mayat itu kabur.
Solombe tertinggal jauh di belakang dari teman-temannya akibat beban berat yang dia bawa. Berkali-kali mayat wanita itu tergelincir dari tubuhnya akibat lemak babi yang dia borehkan kesekujur tubuhnya sebagai jimat keselamatan. Dalam keadaan

Rabu, 05 November 2014

Pengertian Semiotik

Semiotik (semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau sign. Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan (Broadbent, 1980).
A.Teew (1984: 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Menurut Pradopo (2005: 121), semiotik merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian masyarakat). Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti konvensional

New Criticsm Dalam Sastra

New criticism merupakan aliran kritik sastra di Amerika Serikat yang berkembang antara tahun 1920-1960. Istilah new criticism pertama kali dikemukakan oleh John Crowe Ransom dalam bukunya The New Criticism (1940) dan ditopang oleh I.A. Richard dan T.S. Eliot. Sejak Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren menerbitkan buku Understanding Poetry (1938), model kritik sastra ini mendapat perhatian yang luas di kalangan akademisi dan pelajar Amerika selama dua dekade. Penulis new criticism lainnya yang penting adalah: Allen Tate, R.P. Blackmur, dan William K. Wimsatt, Jr. (Abrams, 1981: 109-110).
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap kritik sastra sebelumnya yang terlalu fokus pada aspek-aspek kehidupan dan psikologi pengarang serta sejarah sastra. Para new criticism menuduh ilmu dan teknologi menghilangkan nilai perikemanusiaan dari masyarakat dan menjadikannya berat sebelah. Manurut mereka, ilmu tidak memadai dalam mencerminkan kehidupan manusia. Sastra merupakan suatu jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan lewat pengalaman. Tugas kritik sastra adalah memperlihatkan dan memelihara pengetahuan yang khas, unik dan lengkap seperti yang ditawarkan kepada kita oleh sastra agung (Van Luxemburg dkk, 1988: 52-54).
Sekalipun para new criticism tidak selalu kompak, mereka sepakat dalam memandang karya sastra sebagai sebuah kesatuan organik yang telah selesai, sebuah gejala estetik yang telah melepaskan kondisi subjektifnya pada saat karya itu diselesaikan. Hanya dengan menganalisis susunan dan organisasi sebuah karya sastra, dapat diperlihatkan inti karya seni itu menurut arti yang sesungguhnya. 
Para new criticism menganggap berbagai model kritik yang berorientasi kepada

Selasa, 14 Oktober 2014

Bjørnstjerne Bjørnson

Lahir di Kvikne, wilayah utara Hedmark,Norwegia pada tahun 1832 dan meninggal pada tahun 1910. Bjørnson adalah salah satu pengarang yang dikagumi oleh Alfred Nobel semasa hidupnya. Ketimbang sebagai penulis cerpen atau novel Bjørnson lebih dikenal sebagai seorang penulis drama meskipun pada kenyataannya ia juga seorang penulis puisi, cerpen, dan novel yang berhasil. Diantara karya-karya dramanya yang paling terkenal diantaranya adalah EN Fallit (1875). Sedangkan puisi-puisinya dihimpun dengan judul Digte og sange (1877), Kapten Mansana (1879), dan Pa Guds veje (1889).

Dalam sebuah keterangan pers Bjørnson dianugerahi oleh Akademi Swedia sebuah penghargaan Nobel di tahun 1903 sebagai pengakuan atas :
"...Puisi-puisinya yang banyak segi, indah, dan luhur,

Selasa, 24 Juni 2014

Contoh Polemik Kritik Sastra Di Indonesia

 Istilah ”kritik” (sastra) berasal dari bahasa Yunani yaitu krites yang berarti ”hakim”. Krites sendiri berasal dari krinein ”menghakimi”; kriterion yang berarti ”dasar penghakiman” dan kritikos berarti ”hakim kasustraan”. Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni.
   Menurut Graham Hough (1966: 3) bahwa kritik sastra itu bukan hanya terbatas pada penyuntingan dan penetapan teks, interpretasi , dan pertimbangan nilai, melainkan kritik sastra meliputi masalah yang lebih luas tentang apakah kesusastraan itu, untuk apa, dan bagaimana hubungannya dengan masalah-masalah kemanusiaan yang lain.
Abrams dalam Pengkajian sastra (2005: 57) mendeskripsikan bahwa kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.
   Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Studi sastra (ilmu sastra) mencakup tiga bidang, yakni: teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan saling mengait. Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra.

FUNGSI KRITIK SASTRA

Menurut Pradopo fungsi utama kritik sastra dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:
1.      Untuk perkembangan ilmu sastra sendiri. Kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Hal ini tersirat dalam ungkapan Rene wellek “karya sastra itu tidak dapat dianalisis, digolong-golongkan, dan dinilai tanpa dukungan prinsip-prinsip kritik sastra.”.
2.      Untuk perkembangan kesusastraan, maksudnya adalah kritik sastra membantu perkembangan kesusastraan suatu bangsa dengan menjelaskan karya sastra mengenai baik buruknya karya sastra dan menunjukkan daerah-daerah jangkauan persoalan karya sastra.
3.      Sebagai penerangan masyarakat pada umumnya yang menginginkan penjelasan tentang karya sastra, kritik sastra menguraikan (mengsnalisis, menginterpretasi, dan menilai) karya sastra agar masyarakat umum dapat

Kamis, 15 Mei 2014

Saudara Jauh


Cerpen Orhan Pamuk (Suara Merdeka, 21 Maret 2010)
 

KAMI berjalan di sepanjang Jalan Valikonagi, menikmati malam musim semi yang sejuk. Pertunangan kami baru saja diresmikan; kami sedang mabuk dan dalam semangat yang tinggi. Kami baru saja ke Fuaye, restoran mewah baru di Nisantasi; saat makan malam bersama orangtuaku, kami membicarakan panjang lebar segala persiapan pesta pertunangan yang dijadwalkan pertengahan Juni.

Dalam perjalanan pulang ke rumah Sibel sore itu, saat lenganku merangkul dengan penuh kasih bahunya yang kokoh, ia tiba-tiba berujar, “Oh, tas yang indah!” Walaupun pikiranku dikaburkan oleh anggur yang memabukkan, aku berusaha mengingat tas tangan dan nama butiknya, dan

Boys and Girls

Cerpen Alice Munro

Cerpen ini diterjemahkan oleh Rio Johan

AYAHKU seorang peternak rubah. Artinya, dia memelihara rubah perak, dalam kandang; dan pada musim gugur dan awal musim dingin, sewaktu bulu-bulu mereka prima, dia akan membunuh dan menguliti mereka dan menjual bulu mereka ke Perusahaan Teluk Hudson atau Pedagang Bulu Montreal. Perusahaan-perusahaan iniah yang menyuplai kalender-kalender heroik untuk kami gantung, masing-masing satu untuk tiap sisi pintu dapur. Dengan latar belakang langit biru yang dingin dan hutan pinus hitam dan

Daftar Peraih Nobel Sastra


Penghargaan Nobel Kesusastraan Atau Nobel Prize In Literature adalah salah satu dari lima kategori yang ada dalam Penghargaan Nobel yang diadakan atas permintaan penemu dan industrialis Swedia Alfred Nobel. Penghargaan Nobel sendiri adalah suatu ajang penganugerahan kepada orang-orang yang telah memberikan

Rabu, 14 Mei 2014

Kritik Sastra; Cerpen Kacamata karya Noor H. Dee

Oleh : Ardy Kresna Crenata

Cerpen Kacamata (Koran Tempo, 11 Mei 2014)

karya Noor H. Dee.

SEPULANG bekerja, lelaki itu menunggu kereta di stasiun yang sepi.
Seorang bocah, mungkin berusia 10 tahun, menghampiri lelaki itu dan menawarkan kacamata kepadanya.
Kacamatanya, Tuan, kata bocah itu. Harganya lima belas ribu.
Mata lelaki itu masih sehat dan baik-baik saja, tetapi ia

tetap membeli kacamata itu. Kembaliannya untuk kamu saja, ujar

Free Radicals


Oleh Alice Munro
Cerpen ini diterjemahkan oleh Rio Johan http://www.kemudian.com/node/275023
MULANYA, orang terus-terusan menelepon, cuma untuk memastikan Nita tidak terlalu murung, tidak terlalu kesepian, tidak makan terlalu sedikit atau minum terlalu banyak. (Dia sudah jadi peminum anggur yang rajin sampai-sampai banyak yang lupa kalau dia sebetulnya dilarang minum sama sekali.) Dia menahan mereka, tanpa terdengar berduka seagung-agungnya atau ceria yang tak wajar atau kosong pikiran atau kebingungan. Dia bilang dia tidak butuh sembako; dia mampu bertahan dengan tangannya sendiri. Dia sudah cukup jenuh dengan pil-pil resep dokter dan perangko-perangko untuk

Biografi Motinggo Busye

Motinggo Busye yang bernama asli Bustami Djalid (lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 – meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun) adalah seorang sastrawan terkemuka, sutradara, dan seniman asal Indonesia. Ia terkenal lewat novel-novelnya yang bercerita tentang Seks dan kehidupan malam seperti Mama Cross (1966) dan Tante Maryati (1967). Karyanya yang berjudul Malam Jahanam terpilih menjadi naskah drama terbaik Departemen P & K dan menjadi bacaan wajib di sekolah seni dan

Senin, 12 Mei 2014

Esai Sastra; Meretas Bangunan Estetika Perpuisian Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

(Artikel ini dikutip dari Jurnal Kebudayaan Islam, IBDA', Volume 3, Tahun 2005, Edisi 2, Hal. 193-215)


Meretas Bangunan Estetika Perpuisian
Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

oleh Heru Kurniawan

Abstract: Esthetics have important role in poem, because it stand parallel with meaning, as body or container that contain meaning, idea, thought, and message. With hermeneutic interpretation, we can interpret the meaning of esthetics symbols of Abdul Wachid B.S’s poetry. From his several works, by adequate philosophic-religiosity understanding, we can find that its poem talk about transcendental love through two esthetics feature: first, based on reality awareness, and second, transcendental love which have based on love and longing to The Most Beautiful (Allah). Hence, we can obtain meaning through the real symbolism that able to brighten reader’s heart.
Keywords: poem’s esthetics, hermeneutic, symbol, profane-transcendent, feminine image.

---Pengantar

Estetika dalam karya sastra (puisi) begitu penting keberadaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinatif yang bermediakan

Esai Sastra; "KEINDAHAN YANG RUMIT DAN KEINDAHAN YANG SEDERHANA"

oleh Abdul Wachid B.S.


Ketika Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri) memberi "Kata Pengantar" kepada buku sajak saya yang pertama, Rumah Cahaya (1995), beliau menulis bahwa sajak yang rumit itulah yang bagus, dan sajak-sajak Abdul Wachid B.S. itu rumit, dan karenanya bagus, penuh lambang-lambang... dst.

Tetapi, saya menerima "Kata Pengantar" itu sebagai tarbiyah untuk

Diskusi dan Baca Puisi "Nadi Hang Tuah"


Oleh Raudal Tanjung Banua
DISKUSI DAN BACA PUISI "NADI HANG TUAH"
Bersama Sapardi Djoko Damono, Al-Azhar, Tan Lioe Ie, dan lain-lain

Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia (LK2AI) mengadakan peluncuran buku puisi menguak negeri airmata: nadi hang tuah bertempat di Amphitheater, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu, 10 April 2010 mulai pukul 19.00 WIB. Buku setebal 300 halaman yang diterbitkan Akar Indonesia tahun 2010 itu, merupakan karya Abdul Kadir Ibrahim (Akib), seorang penyair Indonesia kelahiran Natuna, dan sekarang bermukim di Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Acara terbuka untuk umum dan gratis tersebut, akan diisi diskusi sastra oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, sastrawan yang juga guru besar Fakultas Sastra UI dan Al Azhar, budayawan Melayu Riau, dipandu sastrawan Joni Ariadinata. Selain itu, Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A. Manan dan tokoh pers Riau yang juga seorang pengarang, Rida K. Liamsi, akan hadir sebagai pembanding.

Kegiatan ini disemarakkan pembacaan dan musikalisasi puisi yang menampilkan Bambang Darto, Iman Rohmansyah, Hoesnizar Hood, Tan Lioe Ie, kelompok Sobaya dan Abdul Kadir Ibrahim sendiri. Mereka akan membacakan dan menggubah puisi-puisi Akib yang kaya khazanah Melayu, dengan tipografi yang unik, mengingatkan konsepsi “puisi mantra” Sutardji Calzoum Bachri, meski memiliki capaian masing-masing, sebagaimana juga Ibrahim Sattah, penyair Riau lainnya. Uniknya lagi, dalam berbagai kesempatan Akib menulis puisinya dengan aksara Arab-Melayu atau aksara pegon yang sudah mulai punah, karena itu sejumlah puisi beraksara “Arab gundul” itu tetap dipertahankan di dalam buku yang diluncurkan.

Menurut Nur Wahida Idris, ketua penerbit Akar dan salah seorang panitia, kegiatan ini sengaja dilaksanakan pada bulan April karena sekaligus ditujukan memperingati hari wafatnya Chairil Anwar. Selain itu, juga untuk mengumumkan di hadapan publik Yogyakarta bahwa Tanjungpinang yang terpilih sebagai tuan rumah Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III, siap melaksanakan event tersebut bulan Oktober mendatang.
LK2AI sendiri, menurut Wahida, selama ini cukup aktif menyelenggarakan event seni budaya di antaranya diskusi dan pertunjukan sastra bersama KH Mustofa Bisri, Radhar Pancha Dahana, Bertold Damshauser, Agus Sarjono, Saut Situmorang, Jamal D. Rahman dan lain-lain. Melalui devisi penerbit Akar Indonesia, lembaga ini juga konsisten menerbitkan buku-buku sastra serta Jurnal Cerpen Indonesia. *




Pengantar Buku "menguak negeri air mata: nadi hang tuah"

Kehadiran khazanah Melayu dalam karya sastra Indonesia tentu bukanlah hal baru, sebab tokoh-tokohnya sudah semenjak lama berjejak, dan pencapaiannya mengharu-biru teks-teks sastra tanah air. Para tokohnya datang dan pergi, medan pergulatannya berbagai-bagai, dan pencapaian estetik mereka pun terus kokoh-meninggi. Nama-nama semacam Raja Ali Haji, BM Syamsuddin, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Taufik Ikram Jamil—untuk menyebut sebagian kecil—merupakan sosok yang mencuatkan geliat estetik khas Melayu di jagad sastra Indonesia.

Namun, dalam perkembangannya kemudian, sosok dan pencapaian itu tidak sepenuhnya sampai secara “adil” kepada publik, sebagian tidak mendapat akses yang cukup, sebagian “tertutup” oleh kebesaran nama yang lain, sebagian lagi mungkin mundur teratur, dan entah soal apa lagi. Salah satu perkara yang perlu didudukkan secara proporsional adalah perihal “kemegahan” nama Sutardji Calzoum Bachri. Dalam jagad kepenyairan Nasional, ia terutama dipandang dari keunikan khazanah Melayu yang mewarnai puisi-puisi “mantra”-nya. Sayang, Tardji seakan dianggap satu-satunya penyair yang bergulat secara intens dengan akar kulturalnya, minus kegelisahan kreator lain.

Anggapan ini tentu akan merugikan Tardji sendiri dan masyarakat Melayu secara umum. Setidaknya karena Tardji dianggap sebagai sosok yang mencuat begitu saja, personal dan nyaris ahistoris, dari kevakuman lingkungan dan masyarakatnya—dalam hal ini masyarakat kreatif Melayu. Padahal, kita tahu, Tardji tidak berasal dari “ruang kosong-hampa”—pinjam istilah Subagio Sastrowardoyo—melainkan dari ruang sosial dan kultural Melayu yang berlimpah-ruah dengan roh dan atmosfir kreatifnya.

Dalam kenyataan itulah kita akan bersua dengan sosok-sosok lain yang berdampingan dengan Tardji, saling mencari dan bergulat, saling isi dan berkompetisi. Atau kita bisa meminjam istilah Umbu Landu Paranggi,”Saling asah dan asuh, saling gosok dan gesek,” dalam membayangkan proses kreatif mereka, sebutlah yang mungkin pernah berlangsung di “Kota Gurindam Negeri Pantun”, Tanjungpinang.

Ya, di kota inilah Sutardji Calzoum Bachri bersama Rida K. Liamsi (dulu Iskandar Leo), Ibrahim Sattah, Hasan Junus, Hoesnizar Hood, Abdul Kadir Ibrahim (akrab disapa Akib) dan yang lain-lain, pernah mencecap pergulatan kolektif. Baik secara langsung bersama-sama, maupun dari segi spirit yang saling terhubung. Alhasil, pencapaian yang tidak kalah menarik juga berhasil diraih Ibrahim Sattah dengan sajak-sajaknya yang memuat kekayaan khazanah Melayu (apakah tema, kosa kata maupun tipografi) dan pembacaan yang tak kalah atraktif. Beberapa pihak menganggap teks dan penampilan Ibrahim Sattah tidak kalah menarik dibanding Tardji.

Bersamaan dengan itu, Abdul Kadir Ibrahim (lahir di Natuna, 4 Juni 1966) muncul pula dengan puisi-puisinya yang berangkat dari akar kultur Melayu, dan itu tidak dapat dinisbikan. Meski berangkat dari akar yang sama, namun secara estetis Akib berbeda dengan Tardji maupun Sattah. Salah satu perbedaan itu dapat diamati dari intensitas Akib menggali dan memadu-padankan ungkapan Melayu yang lugas dengan model puitisasi ayat-ayat Allah di dalam Al-quran. Alhasil, puisi Akib tidak perlu berbelit dan berpanjang-panjang untuk menyatakan sesuatu, melainkan langsung menghentak, tetapi kaya rasa, suasana dan nuansa.

Lebih jauh, puisi Akib tidak berhenti pada ungkapan, kata-kata atau bentuk semata, namun memuat nilai dan emosi yang menghunjam kalbu pembaca. Perpaduan ini niscaya merupakan kejelian Akib memaknai korelasi alam-Melayu dengan ranah spritualitas Islam yang menjadi dasar pijak puak Melayu. Kekhasan pencarian Akib lebih lengkap lagi lantaran ia menulis langsung sebagian sajak-sajaknya dengan aksara Arab-Melayu yang dikenal dengan “Arab Gundul” atau “Arab Pegon”. Aksara ini, sedari dulu menjadi media lontaran kalam bagi masyarakat Melayu, khususnya di Kepulauan Riau—meski belakangan mulai terkikis zaman.

Demikianlah, singkat kata, puisi Akib mendapat apresiasi yang baik dari pengamat dan publik pembaca. Meski diinterupsi oleh berbagai pekerjaan mulai sebagai guru, jurnalis, sampai kepala dinas, namun ia tetap meluangkan waktu untuk menuliskan puisinya. Puisinya terbit dalam dua buku, masing-masing 66 menguak (Bengkel Teater Bersama, 1991; cetakan kedua Unri Press, 2004) dan negeri airmata (Unri Press, 2004). Kajian cukup mendalam dari kedua antologinya tersebut berupa esei dan makalah dari sejumlah pengamat sudah pula diterbitkan dalam buku Akib: Penyair Cakrawala Sastra Indonesia—menguak negeri airmata (Akar Indonesia, 2008).

Terbitnya kajian yang cukup komprehensif tersebut kemudian mendorong kami memikirkan ketersediaan puisi-puisi Akib dalam satu buku utuh. Apalagi puisi-puisi tersebut sebelumnya terbit dalam dua buku terpisah, dan dalam rentang waktu yang sudah lama pula. Menyatukan kedua buku tersebut niscaya dapat lebih memudahkan pengamat dan pencinta puisi tanah air untuk menikmati karya Akib, juga secara utuh. Setidaknya, kita dapat tahu bahwa penggalian khazanah Melayu masih terus berlangsung, dari berbagai kreator, dan dengan berbagai teknik.

Kami menorehkan judul baru menjadi menguak negeri airmata—nadi hang tuah untuk kedua buku yang disatukan ini. Di samping itu, mengingat tidak banyak kajian puisi yang diterbitkan di negeri ini, maka pendampingannya dengan karya bahasan kami pandang dapat memberi nilai lebih: ada karya, ada bahasan. Tidak kalah penting adalah memuat puisi-puisi Akib yang ia tulis langsung dengan aksara Arab-Melayu. Kami memandangnya sebagai dokumentasi penting sekaligus ingin menginspirasi pemerintah dan masyarakat untuk kembali mengangkat harkat dan martabat aksara berharga tersebut.

Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abdul Kadir Ibrahim yang bekerja sama dengan kami untuk semua upaya budaya ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak yang membantu, di antaranya Ibu Hj. Suryatati A. Manan, Walikota Tanjungpinang yang memberi apresiasi tinggi; Bapak Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono yang mengizinkan ulasannya sebagai esei pembuka; Bapak Drs. Abdul Malik, M. Pd, yang berjasa merangkai ragam-pendapat dalam narasi yang jernih, serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Akhirulkallam, kami ucapkan selamat menikmati puisi-puisi Akib di dalam buku ini.

Yogyakarta, Januari 2010

Akar Indonesia