Assalamu'alaikum. Arin H. Widhi
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Legenda Asal Usul Orang Jawa (Menurut Mitologi Jawa)


Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera. Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi.

Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.


Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis, dsb), adalah

Jumat, 29 Agustus 2014

Asal Usul Penduduk Pulau Jawa



Menurut Suyono, dari karya Van Hien, menyebutkan bahwa keterangan terbaik mengenai keadaan geologi pulau Jawa dapat ditemukan dalam tulisan kuno Hindu yang menyatakan bahwa Jawa sebelumnya adalah pulau-pulau yang diberi nama Nusa Kendang yang menjadi bagian dari India. Pulau ini merupakan hamparan dari beberapa pulau yang kemudian karena letusan gunung-gunung berapi dan goyangan dahsyat gempa bumi pulau-pulau itu bersatu. Babad itu menceritakan bahwa pada tahun 296 sesudah Masehi terjadi letusan gunung-gunung berapi yang berada di pulau itu,

Bima Mencari Dewa Ruci

KISAH DEWA RUCI

Cerita tentang AJARAN DEWA RUCI KEPADA ARYA WREKUDARA/ARYA SENA/BIMA ketika masuk ke dasar samudera guna memenuhi tugas gurunya mencari air penghidupan (Tirtamerta), yang disadur dari bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta/Solo, Yosodipuro


berjudul:"SERAT DEWARUCI KIDUNG" yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, denganbahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.


Seperti apa kisahnya, maka kami informasikan intisarinya yaitu bahwa pihak kaum Kurawa dengan nama negeri Amarta, ingin menjerumuskan pihak Pandawa di negeri Astina,(yang

Senin, 25 Agustus 2014

WERNANING UPACARA JAWA


1. RUWATAN
Ruwatan (pensucian diri )adalah satu upacara tradisional supaya orang terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan supaya selanjutnya bisa hidup selamat sejahtera dan bahagia Ruwatan yang paling terkenal adalah Ruwatan Murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwakala, dimana orang-orang yang termasuk kategori sukerto diruwat/disucikan supaya terbebas dari ancaman Betara Kala, raksasa besar yang kejam dan menakutkan, yang suka memangsa para sukerto

2. TEDAK SITEN
Tedak siten adalah suatu upacara dalam tradisi budaya

Makna Janur Kuning


Mengapa di setiap hajatan pernikahan yang masih bernuansa jawa selalu ada hiasan seperti janur kuning melengkung, tebu, cengkir, pisang raja dan sebagainya yang ditempatkan di depan rumah. Ada banyak makna yang tersimbol di balik semuanya. Ini pula yang membuktikan luhurnya Bahasa Jawa.

Sebenarnya, dalam prosesi pernikahan –pada acara temu atau panggih, sang pembawa

Nama Perempuan Berdasarkan Bahasa Sansekerta

Ambar = langit
Amrita = kekal
Ananda = Kebahagiaan
Anila = angin
Aruna = pagi
Asha = harapan
Avara = paling muda
Bala = Anak perempuan
Chandani = nama dewi
Chandi = nama dewi
Chandra = Bulan yang bersinar
Devi = nama devi
Devika = dewi kecil
Indira = nama istri dewa Wisnu
Isa = Tuan
Jarita = burung legendaries
Jyoti = cahaya
Kali = hitam
Kalinda = Laut
Kalyani = Cantik
Kama = Anak emas
Kamala = loin
Kanti = manis
Kumari = Anak perempuan
Lakshmi = Dewi kecantikan dan kesehatan
Leela = bermain
Madhuri = Manis
Malati = bunga melati
Mani = Sama
Manjusha = sekotak perhiasan
Meena = Ikan
Mohana = karunia
Nalini = Cantik
Opal = nama batu berharga
Padma = teratai
Pavarty = perempuan dari gunung
Prema = Cinta
Radha = Sukses
Rajani = Kegelapan
Rani = Ratu
Rati = Cinta
Rohana =
Rukmini = Istri Khrisna
Sarala = jujur
Sarisha = mengagumkan
Saroja = lahir di danau
Shakuntala = burung
Sharmila =terlindungi
Sitara = pagi
Sunita = hubungan baik
Tara = Gunung Batu
Uma = Cahaya
Usha = pagi
Vasanti = musim semi
Veda = kebijaksanaan
Vidya = pengetahuan
Vimala = murni

Nama Dari Bahasa Jawa

ADIRATNA : Permata yang indah dan mulia
ADIWANGSA : Mulia
ADIWARNA : Indah sekali, bagus sekali
ADIWIDYA : Pengetahuan yang tinggi
ADIYATMA : Hidupnya unggul
ADJAYA : Keunggulan
ADIHARJA : Unggul keselamatannya
ADIKA : Yang terbaik
ADIKARA : Berkuasa; berwibawa
ADINATA : Paling unggul

GAMBIR SAWIT


Gending Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Slendro Pathet Sanga :

Sebuah Analisis Tekstual

Sebagai orang yang berlatar belakang berbeda dalam menganalisis gending-gending karawitan Jawa, sudah tentu mengalami berbagai kendala dalam mengungkap dan membedah objek yang dimaksud. Hambatan dan kendala tersebut tentunya lebih banyak mengenai penafsiran istilah-istilah karawitan Jawa itu sendiri. Walaupun istilah-istilah tersebut sudah ada dalam bentuk tulisan, namun karena kurangnya pengalaman memainkan dan “bergaul” dengan gending Jawa, tentu tulisan ini jauh dari baik. Kami berusaha mencari tahu istilah tersebut, setidaknya dapat kami mengerti dengan cara pandang kami sendiri, yang berkaitan dengan judul di atas.

Perhitungan Nama Ala Jawa


Baik-buruknya nama, menurut perhitungan Jawa (neptu), didasarkan pada susunan aksara Jawa (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga). Setiap aksara diasumsikan memiliki nilai berbeda. Ha, da, pa, ma, masing-masing dinilai 1. Na, ta, dha, ga, nilainya 2. Ca, sa, ja, ba = 3. Ra, wa, ya, tha = 4. Ka, la, nya, nga = 5.