Assalamu'alaikum. Arin H. Widhi

Rabu, 14 Mei 2014

Free Radicals


Oleh Alice Munro
Cerpen ini diterjemahkan oleh Rio Johan http://www.kemudian.com/node/275023
MULANYA, orang terus-terusan menelepon, cuma untuk memastikan Nita tidak terlalu murung, tidak terlalu kesepian, tidak makan terlalu sedikit atau minum terlalu banyak. (Dia sudah jadi peminum anggur yang rajin sampai-sampai banyak yang lupa kalau dia sebetulnya dilarang minum sama sekali.) Dia menahan mereka, tanpa terdengar berduka seagung-agungnya atau ceria yang tak wajar atau kosong pikiran atau kebingungan. Dia bilang dia tidak butuh sembako; dia mampu bertahan dengan tangannya sendiri. Dia sudah cukup jenuh dengan pil-pil resep dokter dan perangko-perangko untuk

Biografi Motinggo Busye

Motinggo Busye yang bernama asli Bustami Djalid (lahir di Kupangkota, Bandar Lampung, 21 November 1937 – meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun) adalah seorang sastrawan terkemuka, sutradara, dan seniman asal Indonesia. Ia terkenal lewat novel-novelnya yang bercerita tentang Seks dan kehidupan malam seperti Mama Cross (1966) dan Tante Maryati (1967). Karyanya yang berjudul Malam Jahanam terpilih menjadi naskah drama terbaik Departemen P & K dan menjadi bacaan wajib di sekolah seni dan

Senin, 12 Mei 2014

Cerita Mini; Pantat

Seorang wanita, memakai beach pant menyodorkan pantatnya di mukaku. Aku mengeram sambil memandang cela diantara belahannya. 
Aku menepuk pantatnya dengan gemas. Berharap tepukanku penuh kutukan yang membuat pantat itu bisulan hingga di tahun-tahun ke depan.
"Ahh maaf-maaf." Dia menoleh. "Saya

Esai Sastra; Meretas Bangunan Estetika Perpuisian Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

(Artikel ini dikutip dari Jurnal Kebudayaan Islam, IBDA', Volume 3, Tahun 2005, Edisi 2, Hal. 193-215)


Meretas Bangunan Estetika Perpuisian
Abdul Wachid B.S. dalam Tafsir Hermeneutika

oleh Heru Kurniawan

Abstract: Esthetics have important role in poem, because it stand parallel with meaning, as body or container that contain meaning, idea, thought, and message. With hermeneutic interpretation, we can interpret the meaning of esthetics symbols of Abdul Wachid B.S’s poetry. From his several works, by adequate philosophic-religiosity understanding, we can find that its poem talk about transcendental love through two esthetics feature: first, based on reality awareness, and second, transcendental love which have based on love and longing to The Most Beautiful (Allah). Hence, we can obtain meaning through the real symbolism that able to brighten reader’s heart.
Keywords: poem’s esthetics, hermeneutic, symbol, profane-transcendent, feminine image.

---Pengantar

Estetika dalam karya sastra (puisi) begitu penting keberadaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinatif yang bermediakan

Esai Sastra; "KEINDAHAN YANG RUMIT DAN KEINDAHAN YANG SEDERHANA"

oleh Abdul Wachid B.S.


Ketika Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri) memberi "Kata Pengantar" kepada buku sajak saya yang pertama, Rumah Cahaya (1995), beliau menulis bahwa sajak yang rumit itulah yang bagus, dan sajak-sajak Abdul Wachid B.S. itu rumit, dan karenanya bagus, penuh lambang-lambang... dst.

Tetapi, saya menerima "Kata Pengantar" itu sebagai tarbiyah untuk