(Surat kepada Nona Zeehandelaar, 18 Agustus 1899)
...kami, perempuan yang terantai adat istiadat lama, hanya sedikit saja mendapatkan kebahagian dari sebuah pendidikan. Ketika perempuan keluar rumah untuk bersekolah, masyarakat sudah mengatakan bahwa kami melanggar adat. Adat di negeri kami melarang dengan keras seorang gadis yang belum menikah keluar rumah. Pada usiaku yang kedua belas tahun. saya ditahan di dalam rumah-saya dipingit, diasingkan dari dunia luar, seorang diri, sunyi senyap. Saya tidak boleh keluar rumah tanpa adanya seorang suami, lelaki yang dipilihkan oleh orangtua kami untuk kami, tanpa sepengetahuan kami.....
.....adat sopan santun kami orang jawa pun sangat rumit. Adikku harus merangkak ketika berada di depanku. Kalau adikku duduk di kursi, lalu aku berjalan di depannya, adikku harus segera turun kemudian duduk di tanah, ia harus menundukkan kepalanya sampai aku berlalu dari hadapannya....dan bila sedang berbicara kepadaku tiap akhir kalimat haruslah diakhiri dengan sembah. setiap gadis harus berjalan perlahan dengan langkah pendek, gerakkannya lambat seperti seekor siput. Bila seorang gadis berjalan cepat dia akan dikata orang seperti kuda liar....
(Surat kepada Nona Zeehandelaar, 6 November 1899)
...Sangkamu aku tinggal dalam terungku atau yang serupa dengan itu. Bukan Stella, penjaraku adalah rumahku sendiri...tembok tinggi inilah penjara kami. Aku putus asa dan sedih, kuhempaskan tubuhku pada pintu yang senantiasa tertutup, dan kepada dinding bengis itu. Kemana aku harus pergi, setiap kali hanya kutemui jalan buntu oleh tembok batu dan pintu yang terkunci....Tak akan bergunanya menerjemahkan buku Hilda Van Suylenburg ke dalam bahasa Melayu, siapa yang akan membacanya kecuali kaum lelaki. Masih sedikit sekali perempuan Jawa yang menguasai bahasa Melayu.
(Surat kepada Ny. Ovink-Soer, November 1899)
...Orang Belanda menertawakan dan mencemooh (kebodohan) kami (orang Jawa), tetapi jika kami mencoba memajukan pola pikir kami, sikap mereka (orang Belanda) berubah menjadi mengancam....Aduh, aduh, sangkaku hanya si 'Jawa' bodoh itu saja yang ingin disanjung demikian rupa, tetapi agaknya orang Barat yang beradab dan terpelajar itu tak segan ingin disanjung-sanjung (dengan sebutan Kanjeng), bahkan
Apa yang aku lihat, yang aku dengar, yang aku baca dan yang aku pelajari. Inilah catatanku.
Sabtu, 25 April 2015
Komunitas Poligami Sakinah; Berorientasi menjadi Forum Perlindungan Istri dan Keluarga Sakinah Atau Akan Menjadi Laskar Perlindungan Dalih Lelaki Hobi Menikah?
Komunitas Poligami Sakinah; Berorientasi menjadi Forum Perlindungan Istri dan Keluarga Sakinah Atau Akan Menjadi Laskar Perlindungan Dalih Lelaki Hobi Menikah?
Poligami memang adalah sebuah pilihan dan dianggap menjadi jalan keluar bagi beberapa masalah dalam sebuah pernikahan, seperti permasalahan keturunan atau masalah difungsi perempuan. Namun pilihan poligami diambil bukan 'BERDASARKAN PADA KEINGINAN LAKI-LAKI' dan poligami yang diridhoi Allah Swt adalah poligami yang mendapat izin istri sebelum poligami itu terlaksana.
Adapun dalil yang memperbolehkan pernikahan poligami sebagai berikut;
Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3).
Poligami memang adalah sebuah pilihan dan dianggap menjadi jalan keluar bagi beberapa masalah dalam sebuah pernikahan, seperti permasalahan keturunan atau masalah difungsi perempuan. Namun pilihan poligami diambil bukan 'BERDASARKAN PADA KEINGINAN LAKI-LAKI' dan poligami yang diridhoi Allah Swt adalah poligami yang mendapat izin istri sebelum poligami itu terlaksana.
Adapun dalil yang memperbolehkan pernikahan poligami sebagai berikut;
Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3).
Kamis, 16 April 2015
Krisis Rumah Tangga
Rumah tangga itu ibarat bangunan rumah, tidak berdiri begitu saja tanpa adanya komponen-komponen penopang hingga menjadikannya bisa berdiri dengan kokoh. Masalah dalam rumah tangga itu seperti musibah, ketika rumah diterjang musibah angin topan misalnya, ia akan hancur. Namun kesadaran dari penghuni rumah tersebutlah yg bisa membuat rumah itu berdiri kembali, bahkan atas kesadaran dari penghuni tersebut rumah itu bisa terawat dengan baik atau mennjadi rumah 'suwung' yang terabaikan. Sedangkan perselingkuhan bermula dari rasa ketidakpuasan terhadap pasangan. Disfungsi peran, dimana seorang lelaki tidak bisa berperan sebagai suami, dan wanita tidak mampu berperan menjadi istri bisa bermula dari kurang sadarnya mereka akan arti suami yg adalah customer istri dan istri adalah costumer suami. Pengabaian sekecil apapun, bisa membuatnya berpaling kekios lain yg menawarkan jasa yg dirasa lebih mengiurkan. Komunikasi antar pasangan, sekecil apapun itu sangatlah diperlukan, sehingga tahu apa yg bisa membuat saling bahagia dan membahagiakan.
Tapi kasusnya akan berbeda jika seorang lelaki dewasa yang tidak sehat mentalnya, selalu memiliki penghayatan negatif kepada dirinya, namun tak jarang ia memiliki memiliki sifat mengangungkan dirinya melebihi orang lain disekitarnya. Jika seorang wanita menikah dengan lelaki semacam itu, dapat dipastikan bahwa
Tapi kasusnya akan berbeda jika seorang lelaki dewasa yang tidak sehat mentalnya, selalu memiliki penghayatan negatif kepada dirinya, namun tak jarang ia memiliki memiliki sifat mengangungkan dirinya melebihi orang lain disekitarnya. Jika seorang wanita menikah dengan lelaki semacam itu, dapat dipastikan bahwa
Senin, 09 Maret 2015
Sejarah Sastra Jepang Modern Bagian III
Kawabata
Yasunari
Yasunari
Kawabata adalah adalah seorang novelis Jepang yang prosa liriknya membuat ia
memenangkan Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1968. Ia menjadi orang Jepang
pertama yang memperoleh penghargaan tersebut. Karya-karyanya hingga kini masih
dibaca bahkan di dunia internasional.
Sementara
masih menjadi mahasiswa, Kawabata menghidupkan kembali majalah sastra
Universitas Tokyo, "Shin-shichō" (Arus Pemikiran Baru) yang telah
mati lebih dari empat tahun. Di situ ia menerbitkan cerita pendeknya yang
pertama, "Shokonsai Ikkei" ("Suasana pada suatu pemanggilan
arwah") -- sebuah karya yang
Sejarah Sastra Jepang Modern Bagian II
Periode
antara pergantian abad dan dominisasi militerisme pada tahun 1930-an,
memproduksi tiga penulis besar, yaitu Mori Ōgai, Natsume Soseki dan
Ryunosuke Akutagawa.
Mori
Ogai
Mori
Ogai adalah novelis Jepang, penerjemah, kritikus, sekaligus dokter militer,
peneliti kedokteran, dan seorang birokrat. Setelah lulus sebagai dokter,
Mori diterima di korps dokter militer angkatan darat, dan belajar ke Jerman
selama 4 tahun atas biaya negara. Sepulangnya dari Jerman, Mori menerbitkan
antologi puisi terjemahan berjudul Omokage dan novel Maihime (Dancing Girl).
Improvisatoren (The Improvisatore: or, Life in Italy) oleh Hans Christian
Andersen diterjemahkannya sebagai Sokkyō Shijin. Moori terinspirasi oleh sastra
Jerman dan memainkan peran utama dalam gerakan sastra Jepang romantis.
Mori mulai aktif sebagai penulis sejak menerbitkan majalah Shigarami
Sōshi. Setelah diangkat sebagai Inspektur Jenderal Korps Dokter Militer
Angkatan Darat, Mori menghentikan kegiatan tulis menulis untuk sementara. Namun
setelah terbitnya majalah Subaru, ia kembali menulis dan menghasilkan
Langganan:
Postingan (Atom)

