Aku menatap matanya, dalam-dalam seolah mengali sebuah
kejujuran dan ketulusan yang mendamaikan. Entah, mataku yang sedang berkabut
atau matanya yang sedang tak jujur.
“Cobalah sedikit saja,” Katanya menuangkan secangkir
anggur dari belahan tubuhnya.
“Ayolah…Ayolah…sedikit saja, cobalah!” Seseorang lain
dalam diriku bersorai. Berjingkrak dan meringkik seperti kuda liar yang baru
dilepaskan dari kandangnya. Aku pasrah dan membiarkan iblis dalam kepala
memenangkan permainannya. Lantas, aku hanya bisa pasrah, aku yang memulai
semuanya. Maka tak bisa kuhindari ketika aku terlentang di atas bara. Peluh
membasah. Aku tertidur. Aku melihat surga dan neraka menjadi satu jiwa.
000
Di suatu ketika, kala aku terlelap, aku tidur
tengkurap. Kerap terdengar dengkur-dengkur pohon malam yang menaungi tidurku.
Aku sering terjaga, lantas terserang sebuah dilema. Seolah sebagian tubuhku itu
kosong keronta tapi aku tak tahu harus diisi apa. Aku juga sering
